Cari Blog Ini

PELANGGARAN ETIKA PEMASARAN

>> Rabu, 06 Januari 2010

Seperti yang disampaikan Leon Schiffman & Leslie Lazar Kanuk dalam Consumer Behaviour, Etika jelas merupakan jalan dua arah. Agar proses pemasaran bekerja secara bermanfaat bagi seluruh masyarakat, para pelaku pasar dan konsumen sama-sama harus mengerti dan mempraktikan perilaku yang etis. Kaitannya dengan aktivitas pemasaran, tidak dapat dipungkiri banyak sekali praktek pemasaran yang secara etika bertentangan. Di sisi lain. Tidak sedikit pula konsumen yang melakukan pelanggaran etika. Sementara dalam konsep bisnis, orang cenderung berprinsip, time is money.

Adapun prinsip-prisnip Etis Dalam Iklan
-Iklan tidak menyampaikan informasi yang palsu dengan maksud memperdaya konsumen.
-Iklan wajib menyampaikan semua informasi tentang produk yang diiklankan
-Iklan tidak boleh mengarah pada pemaksaan.
-Iklan tidak boleh mengarah pada tindakannya yang bertentangan dengan moralitas.

Iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan lewat media, ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat (Kasali, 1995) Iklan bukanlah barang baru dalam sejarah perekonomian Indonesia. Namun iklan-iklan pada waktu itu memang belum banyak menggunakan gambar / ilustrasi. Tanda-tanda berkembangnya jasa periklanan di dalam negeri juga terlihat pada penggunaan tenaga kerja asing yang bekerja pada perusahaan jasa periklanan. Media yang muncul membawa perkembangan bagi dunia periklanan.

Media Faktor Pengubah sebagai berikut :
1.Surat Kabar Kemudahan izin, pendatang baru, tersedianya modal bank, profesionalisme wartawan, cetak jarak jauh, telefoto, dan lain-lain.
2.Televisi Kehadiran TV swasta, antena parabola dan lain-lain.
3.Papan Reklame Teknologi konstruksi (dari konstruksi rangka kaki lidi sampai sistem tiang tunggal dan tiang berputar, papan reklame elektronik atau komputer).
4.Bioskop Teknologi Cineplex layar tiga dimensi.
5.Radio Format station, saluran FM
Sumber : (Kasali, 1995)


Perusahaan-perusahaan di bidang media adalah mitra utama bagi biro iklan. Jenis media yang diproduksi biasanya dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu media cetak dan elektronik. Sesuai dengan namanya, media cetak adalah kumpulan berbagai media informasi yang dibuat (diproduksi) dan disampaikan kepada khalayak sasaran (pembaca) melalui tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga data dilihat dan dibaca. (Majadikara, 2004).

Berbeda dengan informasi di media radio, informasi di media cetak bisa menampilkan gambar dan informasinya lebih rinci. Selain itu, informasi di media cetak lebih mudah disimpan atau didokumetasikan. Inilah salah satu kelebihan media cetak dilihat dari segi keefektifan komunikasi, khususnya komunikasi pemasaran atau periklanan. Oleh sebab itu, iklan cetak digemari pengiklan dan produsen. Tetapi, seiring dengan majunya teknologi media , peranan para ilmuwan telah banyak membuktikan bahwa konsumen dapat dibujuk untuk membeli sesuatu. Semuanya dilibatkan untuk mencari titik lemah konsumen. Keadaan yang tidak berimbang seperti ini mengakibatkan timbulnya kesadaran di kalangan konsumen bahwa mereka harus bersatu menentang tindakan semena-mena dari produsen dan pemasang iklan. Kebingungan akan informasi dalam iklan membuat pemerintah Indonesia menyusun kode etik periklanan yang melibatkan berbagai pihak. Kode etik ini merupakan tuntutan bagi terbinanya suatu dunia periklanan yang tertib, sehat, dan bertanggung jawab. Kode etik tersebut juga merupakan landasan untuk masyarakat dan berfungsi mengatur kehidupan periklanan yang dilaksanakan oleh masyarakat periklanan Indonesia. Namun, adanya kode etik periklanan ini belum menjamin sepenuhnya bahwa iklan akan semakin bertanggung jawab. Iklan sariayu, yang merupakan iklan media cetak ternyata belum sepenuhnya menjalankan kode etik tersebut. Ini dapat dilihat dari perbandingan visual dan teks yang tampak dengan point-point etika iklan yang telah ada. Iklan merupakan salah satu media bagi produsen untuk mengkomunikasikan produknya (barang atau jasa) kepada masyarakat konsumen.

Suatu media cetak dengan oplah 40.000 eksemplar yang dijual 3.000 Rupiah per eksemplar hanya menerima 120.000.000 Rupiah dari sirkulasinya. Dan itu belum dipotong pajak (PPN) komisi agen atau penyalur (30 %), biaya cetak (60 %), serta sejumlah biaya lainnya. Sulit sekali menutup semua biaya tersebut hanya dari penerimaan sirkulasi. Dari iklanlah pihak media dapat menyambung hidupnya. Jika ada 30 iklan yang masuk pada setiap edisi dan masing-masing membayar 4.000.000, rupiah maka pihak media dapat mensubsidi pembacanya tanpa menaikkan harga jual (Kasali,1995).

Gencarnya perusahaan pengiklan dalam menarik perhatian konsumen dapat dilihat dari banyaknya produsen kosmetik yang memuat iklan di media cetak seperti yang dimuat pada tabel di bawah ini :

NO BULAN TERBIT PRODUSEN KOSMETIK JENIS PRODUK
1 Des 2006-Mei 2007 Pixy Bedak Padat Lipstik
2 Des 2006-Mei 2007 Revlon Mascara Lipstik
3 Des 2006-Mei 2007 Viva Body Lotion skin food
4 Des 2006-Mei 2007 Citra Lulur bengkoang Body Lotion
Sumber : Data Pra Penelitian 2006-2007

Dari data di atas dapat dilihat bahwa iklan Sariayu memiliki jenis produk yang lebih banyak dibandingkan dengan produk kosmetik lainnya. Iklan yang dipasang oleh produsen kosmetik xxx hanya iklan bedak padat dan lipstik saja, sedangkan iklan dari produsen kosmetik citra terdiri dari lulur bengkoang dan Body lotion. Iklan yang dimuat di Tabloid Nova merupakan salah satu cara produsen kosmetik sariayu dalam menjangkau konsumen. Masing-masing iklan dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat pembeli. Tinggal pada konsumen untuk memilih sesuai dengan kebutuhanmya. Tetapi konsumen perlu juga melihat kebenaran informasi produk, bukan hanya percaya pada iklan semata. Pada abad informasi ini, para jurnalis dan pemilik media kembali diuji oleh suatu pertanyaan, sampai seberapa jauh kepentingan bisnis mampu menutupi kepentingan masyarakat banyak? Apakah kepentingan hati nurani dapat dikubur begtiu saja oleh kepentingan bisnis semata? Mereka yang terjun dalam bisnis media massa dan yang telah membaca bagaimana menjual ruang dan waktunya, hendaknya dapat bertindak lebih bijaksana, lebih berhati-hati dan lebih mengutamakan perjuangan hati nurani : kejujuran, kebebasan dan kebenaran.

Iklan dan pesan iklan mengandung dua unsur penting dalam promosi.
1. Memberi informasi produk.
2. Meningkatkan penjualan.

Umumnya, semua pesan yang disampaikan harus benar (truthful) dan dalam zaman global ini pun manusia tidak luput dari tuntutan untuk tetap berpedoman kebenaran dalam hidupnya. Memang terdapat indikasi bahwa hidup manusia dewasa ini sudah tercemar dengan banyak kebohongan Banyaknya ketidaktahuan konsumen akan informasi mengenai produk dapat membuat kerugian di pihak konsumen. Penggunaan kata-kata yang ambigu dan terlalu membujuk dapat menimbulkan salah interpretasi pada Konsumen Seperti contoh dalam iklan kosmetika bedak Sariayu disebutkan jaminan memperoleh hasil dalam waktu tertentu. Pada hal ini dilarang oleh peraturan Departemen Kesehatan RI tentang pedoman pengiklan produk kosmetika.

Pelanggaran Produk Kosmetika xxx Jenis iklan Sumber Etika iklan Pelanggaran Produk Kuning langsat series Sariayu Nova No.990/XIX Media cetak : spot iklan harus tdk mencantumkan kegunaan dengan tulisan yang jelas terbaca. dan jenis bahan pembuat produk, Menjanjikan hasil dlm 4 mngg mmproleh kulit putih. Lulur SPA 2 in 1 Nova No.994/XIX Media cetak : spot iklan hrs dgn Tidak mencantumkan nama tulisan yang jelas terbaca. dan alamat perusahaan. xxx Tren Warna Parijs Van Java Nova No.984/XIX Media cetak : spot iklan harus dgn Tidak mencantumkan nama tulisan yang jelas terbaca, Iklan tidak dan alamat perusahaan boleh menjanjikan hasil mutlak seketika jika pemakaiannya harus dilakukan secara teratur dan terus-menerus. Bedak sariayu two way cake SPF 15 Nova No.981/XIX Kosmetika yg mengandung vitamin Tdk memberikan keterangan yang berfungsi bkn sbg vitamin tdk lebih lanjut, Menyebutkan boleh diiklankan dengan menyatakan vitamin dalam bahan yang fungsi vitamin tersebut dlm sediaan bukan berfungsi sebagai kosmetika yang dimaksud. vitamin. Sumber: Data Pra Penelitian Desember 2006 – Mei 2007 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa ada indikasi iklan sariayu melanggar kode etik periklanan. Berdasarkan tabel tersebut juga diketahui terdapat dua iklan sariayu tidak mencantumkan nama dan alamat perusahaan dalam iklan. Sedangkan iklan yang lain tidak mencantumkan keterangan yang lebih lanjut mengenai produknya. Adanya pelanggaran seperti di atas, maka dari itu menjadi alasan peneliti untuk melakukan analisis isi terhadap keempat iklan ini berdasarkan etika iklan.

Diketahui juga bahwa, terdapat daftar 70 produk kosmetik berbahaya dari BPOM yang terbagi menjadi empat kategori antara lain : 18 merek kosmetik rias wajah dan rian mata ; 7 merek kosmetik pewarna rambut mengandung bahan berbahaya dan bahan terlarang; 44 merek kosmetik perawatan kulit; dan satu merek kosmetik mandi. (sumber kompas).

erwin depok

Read more...

Penggunaan kendaraan Motor Gede

Segmentasi Pasar
Dalam sebuah pasar Membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah. Menurut Kotler :“Market segmentation is the process of breaking a heterogeneous group of potential buyer into smaller homogeneous groups of buyer, that is with relatively similar buying characteristics or needs”. Dengan kata lain segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian maupun gaya hidup. Menurut Kotler :“Market segmentation is the process of breaking a heterogeneous group of potential buyer into smaller homogeneous groups of buyer, that is with relatively similar buying characteristics or needs”. Dengan kata lain segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian maupun gaya hidup.


Menentukan Dasar Segmentasi
Dalam menentukan dasar segmentasi yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi yang paling relevan. Sebagaimana diketahui konsumen berbeda dalam banyak hal dan masing – masing berpotensi membentuk segmen, namun kenyataan tidak semua variabel ini akan bermanfaat untuk semua situasi. Dengan demikian perlu kehati-hatian dalam memilih variabel segmentasi agar sesuai dengan perusahaan.

Selanjutnya Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu (2003) menyatakan bahwa agar strategi segmentasi tersebut tepat perusahaan harus pertama, memandang pasar dari sudut yang unik dan dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan pesaing. Kedua metode segmentasi yang digunakan harus sejauh mungkin mencerminkan perilaku pembelian atau penggunaan serta menentukan alasan pelanggan untuk membeli. Karena alasan inilah dynamic atribut segmentation lebih unggul dibandingkan static atribut segmentation, sebab atribut ini lebih mengarah kepada perilaku pembelian, metode ini dapat memberikan informasi yang berharga bagi perumusan strategi pemasaran yang cocok untuk mempengaruhi perilaku konsumen tersebut.

Segmentasi konsumen berdasarkan demografi pada dasarnya adalah segmentasi yang didasarkan pada peta kependudukan misalnya: usia, jenis kelamin, besarnya anggota keluarga, pendidikan tertinggi yang dicapai, jenis pekerjaan konsumen, tingkat penghasilan, agama, suku dan sebagainya. Semua ini disebut dengan variable-variabel demografi.

Data demografi dibutuhkan antara lain untuk mengantisipasi perubahanperubahan pasar menyangkut bagaimana produsen barang dan jasa menilai potensi pasar dalam setiap area geografi yang dapat dijangkau. Segmentasi konsumen berdasarkan data demografi dibutuhkan untuk mengambil keputusan manajerial. Misalnya, stasiun televisi menggunakan data demografi untuk membuka pemancar (transmisi) baru atau bagian pemasaran suatu perusahaan menggunakan data demografi untuk membuka kantor cabang dan mengatur jumlah personel pemasaran yang dimilikinya.

Perusahaan pembuat sepeda motor merek Honda dan Harley Davidson pernah mengalami penurunan penjualan sepeda motornya di pasar Amerika pada awal tahun 1990an. Setelah diteliti ternyata telah terjadi perubahan pola demografis konsumen potensial pengguna sepeda motor yaitu pria berusia antara 1834 tahun. Mereka adalah yang lahir antara tahun 19461964 yang disebut juga baby boomers. Sebagian besar para baby boomers sudah merasa ‘tua’ dan tidak berminat lagi mengendarai sepeda motor sementara jumlah pria pada rentang usia tersebut ternyata telah sangat berkurang. Selain faktor demografis, penurunan penjualan juga dapat disebabkan munculnya produk alternatif yang dianggap lebih menarik misalnya: perangkat audio stereo, televisi layar lebar, peralatan fitness, peralatan fotografi dan video, fasilitas spa dan sebagainya. Fakta tersebut mendorong para pengelola pemasaran Honda dan Harley Davidson untuk meyakinkan calon konsumen bahwa membeli sepeda motor merupakan cara yang berharga untuk membelanjakan kelebihan pendapatan mereka sebagaimana produk lainnya. Melalui strategi pemasaran yang tepat, kedua perusahaan itu berhasil melawan tren penurunan penjualan sepeda motor dan menaikkan tingkat penjualan mereka. 4 Data demografi juga sangat dibutuhkan dalam menentukan strategi periklanan yang menyangkut bagaimana suatu produk dikomunikasikan kepada khalayak-khalayak sasaran. Dalam hal ini, pemasang iklan perlu memahami mediamedia apa saja yang dapat menjangkau segmen pasarnya, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk menjangkau masing-masing segmen itu, kapan sebaiknya disiarkan dan siapa bintang iklan yang cocok untuk menjangkau setiap segmen. Praktisi pemasaran perlu memahami data demografi yang terkait dengan strategi iklan ini agar dapat menentukan media yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Kita akan membahas masingmasing variabel dalam segmentasi demografi ini.


Usia Pengendara Motor Gede
Biasanya konsumen dibedakan menurut usia anakanak, remaja, dewasa dan orang tua. Tetapi pembagian ini masih dianggap terlalu luas. Misalnya, kelompok usia dewasa memiliki bentang usia yang cukup luas sehingga perlu dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Belch & Belch 5 membagi segmentasi berdasarkan usia sebagai berikut:

Belch & Belch membagi segmentasi berdasarkan usia sebagai berikut:

NO KELOMPOK USIA
1 0 – 6 tahun
2 6 – 11 tahun
3 12 – 17 tahun
4 18 – 24 tahun
5 25 – 34 tahun
6 35 – 49 tahun
7 50 – 64 tahun
8 Di atas 64 tahun


Biro Pusat Statistik (BPS) membagi konsumen dan audien media massa berdasarkan usia
yang dikelompokkan sebagai berikut:
BPS

NO KELOMPOK USIA
1 0 – 6 tahun
2 15 – 20 tahun
3 20 – 29 tahun
4 30 – 39 tahun
5 40 + tahun


erwin depok

Read more...

DDO Bali Mengembangkan Desain Produk dari Prop. Bali

>> Selasa, 01 Desember 2009

Design Development (DDO) Bali ikut berpartisipasi dengan perusahaan binaan yang mayoritas pengusaha UKM asal Bali menampilkan 10 produk yang dikembangkan desainnya (jewelry, tekstil, kayu & produk keramik, anyaman bambu dan perak) pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2009.

Calon pembeli yang akan ditindaklanjuti oleh DDO Bali sampai dengan hari ketiga pelaksanaan TEI 2009, berasal dari Perancis, Spanyol, Chile, Bulgaria, Rusia dan Lebanon dengan para buyer yang dikoordinir dari BPEN – Departemen Perdagangan, sedangkan dari dalam negeri datang dari sebuah Hotel di Medan yang memesan anyaman bambu untuk produk perlengkapan kamar hotelnya (tempat: handuk, sabun, sampah dll).

Program DDO Bali untuk pengembangan desain bagi perusahaan UKM Bali 2010 antara lain kerajinan besi, kulit, kaca dan ate. DDO Bali berkeinginan agar produk-produk sebagaimana disebutkan di atas yang datangnya dari perusahaan UKM Bali dan telah dibina dalam pengembangan desainnya dapat berkiprah memenuhi pasar global, DDO Bali berencana kembali berpartisipasi pada pameran TEI 2010.

DDO Bali adalah organisasi pelaksana tugas dari Design Development Supporting Committee (DDSC) Bali, suatu organisasi yang terdiri dari unsur-unsur Pemerintah Daerah dan Dinas-DInas di Bali. Organisasi ini diprakarsai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) bersama Ditjen IKM Deperindag dan Pusat Desain Nasional (PDN), yang menggalang kerjasama antara beberapa lembaga yang mempunyai kepentingan dalam pengembangan desain di Bali antara lain Pemda Prop. Bali, Lembaga Perguruan Tinggi, Asosiasi pengusaha dan pengrajin Bali.

Tujuan dari DDO Bali adalah untuk menghasilkan bentuk desain produk kerajinan Bali secara menyeluruh yang mempunyai ciri khas dengan kemampuan membangun image dan citra Bali. Usaha DDO Bali antara lain memberikan bantuan pengembangan desain (pelatihan, seminar, pendidikan, konsultasi desain, strategi konsep, donsep desain, tedail desain, pengawasan desain, informasi dan evaluasi); sosialisasi dalam rangka investigasi dan pendampingan dan perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI); dan melakukan promosi pemasaran berbasis informasi teknologi (internet / E-commerce.)

erwin depok

Read more...

Yaman Mengimpor Sepuluh Ribu Unit Produk Spa dari Indonesia

Pasar Eropa Barat sangat menjanjikan bagi produk-produk spa Indonesia. Salah satunya adalah produk alamiah yang berasal dari oil minyak atsiri yang biasa dipakai dalam perawatan kecantikan seperti, SPA. Pemilik Cakra Aroma Terapi & Natural Beauty yang berpartisipasi dalam pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2009 yang diselenggarakan di PRJ – Kemayoran Jakarta, tanggal 28 Oktober – 1 Nopember 2009, termasuk yang tertarik menggarap peluang pasar produk spa di Eropa. Dalam memasuki pasar Ekspor, semua produsen menginginkan hal tersebut untuk kemajuan usahanya.

Terdapat beberapa buyer yang telah memesan produk spa dalam jumlah besar, yaitu dari negara Yaman. Mereka memesan lebih dari 10.000 unit. Dan untuk buyer lokal juga sudah ada yang langsung membeli kepada pengusaha asala Indonesia.

Pada kesempatan ini juga, Cakra Aroma yakin keuntungan yang diperoleh akan mampu mendongkrak pendapatannya pada TEI 2009. Selain itu produknya akan semakin dikenal banyak orang, dan yang terpenting dapat bermanfaat bagi di pemakai.

erwin depok.

Read more...

Keikutsertaan Indonesia untuk pertama kali pada Lagos International Trade Fair (LITF) 2009 Tanggal 6 – 15 Nopember 2009

>> Rabu, 25 November 2009

Indonesia meraih transaksi yang cukup signifikan pada Pameran Lagos International Trade Fair (LITF) 2009 yang berlangsung pada tanggal 6 – 15 Nopember 2009 di Lagos - Nigeria. Partisipasi Indonesia yang untuk pertama kalinya ini adalah dalam rangka meningkatkan ekspor non migas Indonesia ke Afrika khususnya Afrika Barat.

Hesti Indah Kresnarini, Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Dep. Perdagangan mengatakan “ Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi pada tahap persiapan maupun pada saat kehadiran di dalam Pameran, namun keikutsertaan Indonesia untuk pertama kali pada Pameran ini sekali lagi membuktikan komitmen yang kuat dari Pemerintah, dalam hal ini BPEN Departemen Perdagangan untuk secara konsisten melakukan upaya penerobosan pasar ekspor di negara-negara non tradisional”.

LITF 2009 merupakan pameran terbesar di Lagos – Nigeria yang menempati 10 Hall. Pavilliun Indonesia seluas 150 m2 berlokasi di Hall 4 yang mengakomodasikan 11 perusahaan yang dikoordinasikan oleh BPEN, yang memamerkan produk –produk berupa : ban dan suku cadang kendaraan bermotor, kran pipa air (valve) dan watermeter, kerangka atap alumunium, pupuk organik, rempah-rempah, minuman dan makanan kesehatan, keramik lantai dan dinding, wooden door, stationary non paper dan mobil pemadam kebakaran. Selain Indonesia, Hall ini juga merupakan lokasi dari 50 Pavilion dari berbagai negara, antara lain, RRT, India, Lebanon, Korea Selatan dan Thailand serta Nigeria sendiri. Setiap harinya Pavilion Indonesia dikunjungi oleh kurang lebih 2000 pengunjung yang berasal dari berbagai negara di wilayah Afrika.

Total nilai kontrak dagang yang berhasil diraih oleh para peserta Indonesia mencapai nilai sebesar US$. 10.168.348,00, pembeli individual terbesar berasal dari Nigeria untuk produk Pupuk Organik yang diproduksi oleh PT. Biotama dari Surabaya dengan nilai kontrak sebesar US$ 2 juta, yang menurut pembeli tersebut akan digunakan untuk pasaran dalam negeri Nigeria khususnya di wilayah Kano dan Kaduna yang merupakan wilayah pertanian terbesar di negara ini. Produk ban kendaraan bermotor dari PT. Multistrada Arah Sarana juga berhasil meraih kontrak senilai +/- US.$ 5 juta untuk pasar negara Nigeria, Ghana dan Benin. Pupuk dan peralatan serta mesin-mesin pertanian (alsintani) mempunyai prospek yang sangat baik di pasaran negara-negara anggota ECOWAS (Economic Community Of West African States) khususnya Nigeria, karena sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi prioritas utama pembangunan oleh Pemerintah Nigeria.

PT. New Sentosa International, produsen mobil pemadam kebakaran telah berhasil mengikat kontrak penjualan dengan Pemerintah Negara Bagian Joss, Nigeria untuk 5 unit mobil pemadam kebakaran dengan nilai US$ 2,5 juta yang terdiri dari 1 unit mobil pemadam kebakaran ukuran besar senilai US$ 1,5 juta dan 4 unit mobil pemadam kebakaran ukuran kecil dengan nilai total US$ 1 juta, selain itu sampai dengan berakhirnya Pameran, negosiasi antara Perusahaan ini dengan Pemerintah Negara Bagian tersebut dalam rangka pembelian 4 unit mobil pemadam kebakaran ukuran kecil masih terus berlangsung dan kemungkinan akan berhasil dicapai kesepakatan.
Produk suku cadang kendaraan bermotor yang ditawarkan oleh PT. Astra Otopart Tbk berhasil meraih trial order senilai US$ 65 ribu, sedangkan daun pintu kayu hasil produksi PT. Hasil Timber telah meraih kontrak penjualan dengan pembeli dari Ghana dan India senilai +/- US$ 190 ribu, PT. Barindo Anggun Industry dari Surabaya yang memamerkan kerangka atap alumunium, meteran air serta kran pipa air (valve) berhasil memperoleh trial order senilai US$ 85 ribu.

Pada hari ketiga, bertempat di Wisma Indonesia di Lagos, telah diselenggarakan pertemuan bisnis yang dikoordinasikan oleh Indonesian Trade Promotion Centre di Lagos, yang dihadiri oleh beberapa Senator dari negara bagian Lagos, Kaduna, Kano, Niger. Pertemuan bisnis yang didahului dengan ramah tamah yang dilanjutkan dengan acara one-on-one meeting antara pengusaha Indonesia peserta LITF 2009 dengan beberapa pengusaha terkemuka dari Nigeria dan pengusaha dari negara sekitarnya seperti Benin, telah menghasilkan beberapa transaksi yang cukup signifikan, yaitu antara lain, PT. Mulia Keramik yang menawarkan hasil produksinya berupa keramik lantai dan dinding, PT. Nutrifood Indonesia (makanan dan minuman kesehatan) dan PT. Aneka Andalan Asia (stationery non paper) serta perusahaan binaan Dinas Perindag Provinsi Aceh yang menawarkan hasil bumi berupa rempah-rempah, telah menarik minat para pengusaha Nigeria dan Benin yang hadir untuk menjadi distributor barang-barang tersebut untuk pasaran di negara Nigeria dan kemungkinan untuk wilayah negara-negara Afrika bagian barat lainnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa partisipasi Indonesia untuk kali pertama pada pameran LITF 2009 telah memperoleh hasil yang cukup baik dilihat dari transaksi yang berhasil diraih selama pameran berlangsung, sehingga diharapkan kekutsertaan Indonesia ini akan dapat berkontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke pasaran negara-negara tradisional, khususnya di negara-negara Afrika bagian barat.

“Hal lain yang penting untuk digarisbawahi dari hasil yang diperoleh di dalam partisipasi Indonesia pada Pameran ini adalah, bahwa produk industri manufaktur Indonesia tetap eksis dan mampu bersaing dengan produk-produk sejenis dari negara-negara lain di pasaran luar negeri khususnya negara-negara Afrika”, demikian Hesti menambahkan.

Read more...

MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT?

>> Selasa, 20 Oktober 2009

Pendahuluan

Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan “agent of development” yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa “kecele” menyaksikan kenyataan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin, baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu, di kampung-kampung pegunungan, maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil “ekonomi rakyat” sebesar Rp 7,5 milyar dari dana APBD, tokoh penerima dana-dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan “istimewa” karena kemiskinannya.

Bank adalah Mitra Orang Kaya
Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12,0% pertahun, yaitu dari Rp. 214,2 milyar (2001) menjadi Rp. 256,0 milyar (2002) dan Rp. 272,4 milyar (2003). Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2,2% (2001), 10,8% (2002), dan 13,8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32,1%. Rupanya kalau tidak ada kredit “UMKM” yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten, tidak ada tanda-tanda perbankan “bersemangat” menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak, lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat.
Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke “rentenir” dengan membayar bunga tinggi, tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga “menarik”. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi, dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya.
Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat, mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang, yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. Maka ada lembaga penjaminan kredit, dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank), yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan, bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu.
Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup, Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Bunga SBI ini pernah mencapai 17,5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah, sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah, tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena “kesulitan menemukenali” proyek-proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai, padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI.

Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung, dan sama sekali bukan agent of development. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga, agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan, bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah, maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan.


Kesimpulan
Kasus “kecil” perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil “menjadi kaya” sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat, kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di mana-mana di seluruh Indonesia. Dalam sistem ekonomi kapitalis, para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati, yang kepentingannya paling dilindungi. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya.


ekonomi, jakarta

Read more...

UKM DI MASA KRISIS EKONOMI, DISTRIBUSI SPASIAL

>> Selasa, 13 Oktober 2009

Para pengusaha di kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang merupakan bagian penting dari perekonomian dalam suatu negara. Ada beberapa tiga alas an dalam sebuah negara berkembang pada keberadaan UKM (Berry, dkk, 2001) antara lain : karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif, sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi, karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar.

Berdasarkan dari data PDRB, krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia. Pada tahun 1998, saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah, hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. Pada tahun tersebut, seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (Akita dan Alisjahbana, 2002).


Pada Tabel 1 menggambarkan tingkat pengangguran dengan tingkat 4,9% (1996) menjadi 6,1% (2000) dan telah telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35,1.

Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada.


DISTRIBUSI SPASIAL UKM
Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah, distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 1996-2000 juga terpusat di Pulau Jawa. Pada tahun 1996, sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Sejak terjadi krisis ekonomi, UKM justru makin memusat di Jawa, yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. Dari lima propinsi di Jawa, hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil, sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. Selain propinsi-propinsi Jawa, hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.
Selain dari jumlah unit usaha, distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa, namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya, yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000.

Menurut Kuncoro, bahwa sampai sebelum tahun 1988, konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun, namun sejak memasuki periode deregulasi, konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Diketahui juga bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. Masih menurut Kuncoro (2002b), dalam kasus Indonesia, deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur.
Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Dari analisisnya, Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur.

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP